Kangen Lubuklinggau
Hm… hampir sepuluh tahun aku meninggalkan kota Lubuklinggau untuk merantau ke pulau Jawa. Dulu disaat masih kuliah (dan ganteng-gantengnya) setiap libur lebaran selalu aku sempatkan untuk “mudik”.
Di awal-awal tahun 2001 “mudik” merupakan perjuangan yang sangat berat. Harga tiket pesawat masih berkisar diatas satu juta untuk satu kali perjalanan, baik itu via Palembang ataupun Bengkulu. Pilhan satu-satunya jatuh pada Bis Antar Kota Antar propinsi.
Waktu tempuh menggunakan jalur darat kurang lebih dua hari satu malam, mantap, cukup untuk membuat dua orang saling kenal satu sama lain
Ketika terjadi “revolusi” harga tiket pesawat, “mudik” yang rutin aku lakukan tiap tiap tahun terjadi sedikit lebih mudah, bermodalkan uang enam ratus ribu rupaiah saja, aku sudah bisa tiba ke kota Lubuklinggau dalam waktu kurang dari 10 jam
hebat bukan ?
Sejak tahun 2008, aku tidak melaksanakan prosesi mudik, berlebaran di tanah rantau memberikan suasana tersendiri.
Dan… tahun ini lebih mantap, karena tidak juga “mudik”. Ada beberapa faktor yang membuat tidak mudik tahun ini :
1. Jatah cuti habis
Kebetulan jatah cuti untuk tahun ini sudah habis (bahkan minus) akibat melaksanakan resepsi pernikahan di dua kota sekaligus
, walaupun ada libur dari kantor 18-23, tetap tidak memungkinkan untuk pulang.
2. Kehabisan tiket
Pernah dicoba untuk tanya-tanya tiket kepulangan diantara tanggal libur kantor, ternyata harganya tidak masuk akal (eh kantong ding)
————-
Namun beberapa hal yang mungkin meringankan penderitaan berlebaran di rantau adalah :
1. Ada istri tercinta menemani.
Beda dengan dulu, sekarang sudah ada Istri yang menemani untuk berlebaran di rantau, terlebih istri jago masak, jadi tidak ada istilah kelaparan.
2. Speedy sudah masuk linggau
Karena speedy sudah masuk, jadi untuk melakukan Cam Chat dengan keluarga dikampung halaman terasa menjadi hal yang paling mengobati rindu akan Lubuklinggau.
————–
Popularity: 3% [?]











Komentar Baru